Pengalaman Memalukan hingga Membahagiakan menjadi Community Writer di IDN Times

 


Sebelum menulis artikel ini, aku sempat membaca blog pribadi yang review menulis di IDN Times. Pendapat mereka beragam. Rata-rata menyebutkan jika menulis di IDN Times itu susah.

Ada benernya juga sih! Setelah artikel pertama publish tanpa ada hambatan, submit banyak artikel lagi, tapi hasilnya nihil! Sebulan lebih aku menunggu…Dua belas purnama berlalu. Belum ada satu pun yang dipublish lagi oleh editor.

Orang sukses mengatakan,”Daripada menunggu, tak ada salahnya kita menjemput bola.” Hingga akhirnya hal memalukan pun terjadi. Tengoklah gambar di bawah ini:


Motivator pun ikut berkomentar menyaksikan gambar di atas, ”Maksud menjemput bola, bukan begitu juga MUNAROH!” Oke, fine, aku salah! Hehe… Bila kalian-kalian di posisi aku, pasti akan melakukan hal sama. Setuju atau agree? Siapa sih yang enggak gregetan, artikel kita gak ada kabar sama sekali. Kalau emang diterima, buruan dipublish. Kalau emang enggak keterima, alias ditolak, bilang. Jangan menghilang tanpa kabar, seperti dia yang awalnya bilang sayang lalu ilang. Sudah kenyang di-PHPkan oleh cinta, di-PHPkan juga oleh editor. Enggak enak tauk!


Beda hal yang suka kasih informasi mengenai artis, pasti akan berkecimpung di artikel Hype. Aku?

Aku pernah menulis tentang Life, cenderung edukasi yang berjudul: Berdesain Unik, 10 Perpustakaan Ini Bisa Bikin Kamu Betah Baca Buku!. Sains juga pernah, judulnya: Apa Benar Minuman Beralkohol Itu Menghangatkan? Ini Penjelasannya! . Travel? Jangan Tanya! Aku juga bikin artikel tentang travel, nih, Terkenal karena Film, Ini 7 Fakta Menarik Kota Ouarzazate di Maroko .

Pada akhirnya, aku mulai merasakan kenyamanan seperti tidur di bed hotel. Menulis mengenai travel itu seru banget dan menyenangkan! Benar-benar membuka wawasan kita mengenai dunia. Menulis artikel travel juga bikin hati bahagia, mana kala menyaksikan gambar-gambar pemandangan eksotis destinasi yang dimaksud, saat upload untuk artikel jenis listicle.


Oke, aku menyelam di kedua tema tersebut, travel dan food. Tak kusangka (bahasnya terlalu mendramatisir banget, ye)hehe, artikel tentang food lebih banyak peminatnya ketimbang travel. Jika di travel untuk mendapatkan seribu pembaca saat terbit aja susaj banget. Tidak di food!

Alhamdulillah, sekarang ini artikel aku di IDN Times, baik itu tentang food atau travel, pembacanya mulai banyak. Karena mereka (pembaca), namaku mulai nangkring di penulis populer IDN Times. Kamu dapat melihatnya ketika membuka aplikasi IDN Times. Belum punya, buruan download dan puas-puasin membaca gratis!

Hal yang tidak begitu wow, tapi cukup bikin aku bahagia karena banyak pembaca yang menerima tulisanku.




Komentar